MATERI SENI MUSIK KELAS 8

Gaya dan Teknik Bernyanyi Lagu Daerah

Materi Pokok
Setelah mengenal keragaman musik tradisional daerah di Indonesia dan fungsi ser-
ta ciri khasnya, tahap selanjutnya mari kita memperhatikan lebih saksama beberapa
teknik yang digunakan dalam membawakan lagu-lagu tradisional atau daerah. Ada
banyak sekali teknik menyanyi unik dari berbagai daerah yang tentu saja disesuai-
kan dengan musik dari daerah tersebut. Namun, dalam pembahasan ini kita akan
membahas empat jenis teknik bernyanyi lagu daerah.
1. Teknik Nyindhen
Pesindhén, atau Sindhén (dari bahasa Jawa) adalah sebutan bagi wanita yang ber-
nyanyi diiringi oleh orkestra gamelan. Pesindén yang baik harus memiliki kemam-
puan untuk menyanyikan tembang dimana dibutuhkan teknik khusus untuk me-
lakukan ornamentasi vokal dengan ciri khas sindhen.
Menurut Ki Mujoko Joko Raharjo seorang tokoh seni budaya Jawa, Pesindhen
berasal dari kata pasindhian yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagu-
kan (melantunkan lagu). Sindhén juga disebut waranggana (wara berarti seseo-
rang berjenis kelamin wanita, dan anggana berarti sendiri). Pada zaman dahulu
waranggana adalah satu-satunya wanita dalam panggung pergelaran wayang atau-
pun pentas klenengan.
Kesenian Sindhén terdapat di daerah seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Sunda,
Jawa Timur dan daerah lainnya, walaupun terdapat beberapa perbedaan karakter-
istik. Pada pertunjukan wayang tertentu yang bersifat spektakuler, dapat mencapai
delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih.
Setiap penyanyi Sindhén mempunyai ciri khas masing-masing. Walaupun
dengan lagu yang sama, namun berbeda dalam hal jenis dan warna suara, teknik
vokal yang digunakan, penempatan ornamentasi, dinamika dan lain sebagainya.
Perbedaan ornamentasi demikian akan memungkinkan timbulnya ciri khas pada
tiap pesindhen dalam menggunakan gaya nyanyian (senggol) dan irama lagu pada
masing-masing vokal kapesindenan.
Ada beberapa teknik ornamentasi vokal seperti eluk tungtung, ngolembar,
geregel, gerewel, yang memiliki kesamaan teknik dalam menyanyikan lagu keron-
cong (Krisna, 2018). Contoh dapat ditemukan pada daring youtube dengan kata
kunci #tutorial sindenan dasar yang baik dan benar dan #belajar nyinden jawa.
2. Teknik Keroncong
Musik keroncong telah menjadi bagian dari budaya musik bangsa Indonesia.
Di dalamnya terdapat karakteristik yang mengandung nilai-nilai budaya bangsa
Indonesia, menjadikan musik keroncong memiliki karakteristik tersendiri yang
berbeda dengan musik lainnya. Walaupun musik keroncong telah dipandang se-
bagai budaya musik bangsa Indonesia, namun kita harus menyadari bahwa dalam
perjalanan sejarahnya, keroncong merupakan salah satu musik yang terbentuk dari
perpaduan antara unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan bangsa Indonesia.
Maka dapat dikatakanlah bahwa musik keroncong adalah salah satu musik hasil
akulturasi dari dua kebudayaan yang berbeda. Istilah akulturasi yang didapat dari
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian sebagai berikut:
1. Percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mem-
pengaruhi, seperti candi-candi yang ada sekarang merupakan bukti adanya ke-
terkaitan antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan India;
2. Proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, seba-
gian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu,
dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.
Dari penjelasan tersebut tentang akulturasi, apa yang terjadi dalam per-
kembangan musik keroncong pun dapat dikatakan sebagai proses akulturasi. Di-
lihat dari beberapa unsur yang terdapat dalam musik keroncong seperti, alat musik
yang dimainkan, bentuk musik, tangga nada, harmonisasi dan unsur-unsur lain.
Teknik Vokal Keroncong
Beberapa teknik vokal keroncong asli adalah sebagai berikut (Finalti, 2012):
1. Nggandul; merupakan cara menyanyi dengan ketukan lebih lambat dari
ketukan yang seharusnya atau tertulis di notasi (kurang lebih ½ ketuk), namun
pada frase berikutnya ketinggalan ritme akan dikejar dan kembali ke ritme yang
seharusnya.
2. Cengkok; merupakan nada hiasan pada melodi utama, semacam mordent pada
musik diatonis barat.
3. Ngembat; merupakan cara menyanyi yang dimulai di bawah melodi utama,
yang kemudian bergayut.
4. Gregel; merupakan teknik vokal seperti appoagiatura yang dinyanyikan pada
akhir frase yang biasanya diakhiri dengan nada yang panjang dan teknik vibra-
to.
Perhatikan contoh berikut, yang digunakan pada lagu Indonesia Pusaka, di-
mana keduanya menggunakan musik iringan yang sama, dengan gaya keroncong.
Walaupun demikian, penyanyi Satrio Lashart pada contoh 1 tidak menggunakan
teknik vokal keroncong seperti Nggandul. Pada contoh 2, digunakan beberapa tek-
nik vokal khas keroncong seperti Nggandul, Cengkok, Ngembat untuk memperin-
dah lagu "Indonesia Pusaka" yang dibawakan.

3. Teknik Melayu
Budaya Melayu merupakan budaya yang sangat kaya dan tersebar di seluruh
Sumatera, Semenanjung Malaysia, Singapura dan Thailand, di mana unsur lagu
dan tari merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seni pertunjukan. Seni
pertunjukan atau seni persembahan memiliki makna penampilan seniman dalam
melakukan komunikasi dengan penonton, berdasarkan nilai-nilai budaya yang
dianut oleh masyarakat Melayu (Takari dan Dewi, 2008:95).
Lagu dan tari pada budaya Melayu mengalami evolusi seiring dengan pengaruh
berbagai kebudayaan seperti Hindu, Budha, dan Islam yang berkembang di
Indonesia. Pada akhirnya sejak abad XIII hingga kini, Islam kemudian menjadi
dasar serta pusat dari peradaban Melayu.
Menurut Azlina Zainal seorang penyanyi senior lagu Melayu berasal dari
Sumatera Utara, teknik utama yang digunakan dalam bernyanyi lagu-lagu Melayu
adalah kreativitas dan improvisasi dalam menghiasi melodi lagu dengan berbagai
macam ornamen khas lagu melalu seperti grenek, cengkok, dan patah lagu. Ke-
mampuan dalam memberikan hiasan melodi ini menjadi kelebihan dan ciri khas
unik dari seorang penyanyi (Simanjuntak, 2015).
Popularitas seorang penyanyi Melayu didukung kuat oleh karakter vokal dan
kemampuan melakukan hiasan-hiasan melodi ini yang berfungsi untuk memper-
indah sebuah melodi lagu. Tanpa hiasan cengkok dan grenek maka melodi itu akan
terasa kaku, dan kurang memberikan karakter gaya bernyanyi Lagu Melayu yang
khas.
Untuk memahami grenek, contoh dapat dilihat pada daring seperti youtube,
dengan kata kunci #teknik dasar bermain biola melayu, #terbaik master bertha
ajarkan tata cara bernyanyi melayu, dan #Siti Nurhaliza - Cindai.
Pantun banyak digunakan pada lagu-lagu Melayu, seperti pada lagu "Laksamana
Raja di Laut". Lagu ini merupakan salah satu lagu Melayu yang sangat terkenal,
namun mungkin ada yang belum tahu tokoh ini adalah nyata bukan sebuah fiksi,
yang hidup dan menjadi bagian penting dari tokoh berdirinya kerajaan Melayu
Siak Sri Indrapura pada masa dahulu.
Keanekaragaman adat istiadat di Indonesia sangatlah banyak. Semua budaya
tersebut dalam hal ini musik begitu sangatlah unik sesuai dengan latar belakang
budayanya masing-masing. Yang paling penting tentunya adalah apresiasi terhadap
suatu bentuk kebudayaan, yang diawali dengan pemahaman dan penghargaan
terhadap kebudayaan sendiri. Dengan lebih mengenal budaya kita, diharapkan kita
juga dapat memahami dan menghargai budaya lainnya.

4. Teknik Dangdut
Munculnya musik dangdut berawal dari perpaduan musik Hindustan, Melayu,
dan Arab yang datang dan berkembang di Indonesia. Pengaruh India sangat kuat
seperti pada alat musik yang digunakan, yaitu gendang dan tabla, serta harmoni
musik.
Unsur tabuhan yang merupakan bagian unsur dari musik India digabungkan,
dengan unsur cengkok penyanyi dan harmonisasi dengan irama musiknya
merupakan suatu ciri khas dari irama Melayu merupakan awal dari mutasi dari
irama Melayu ke dangdut.
Proses akulturasi musik melayu semakin cepat pada era tahun 1960-an, dimana
mulai dipengaruhi oleh banyak jenis musik lainnya seperti gambus, degung,
keroncong, dan langgam. Mulai zaman inilah sebutan untuk irama Melayu mulai
berubah dan menjadi terkenal dengan sebutan musik Dangdut, dikarenakan bunyi
gendang lebih didominasi dengan bunyi dang dan dut. Dengan demikian kata
dangdut merupakan onomatope atau kata yang menirukan sesuai dengan bunyi
suara instrumen tersebut sendiri, yaitu bunyi dari tabla atau gendang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD SENI MUSIK KELAS 8

MATERI SENI RUPA KELAS 9